Jumat, 17 Februari 2012

SEUNTAI CERITA CINTA BUNG KARNO

      SEUNTAI CERITA CINTA BUNG KARNO-Begitu romantisnya kisah cinta mantan presiden kita yang pertama “Ir. Soekarno” kepada para isterinya. Saya pikir, kesetiaan dan keharmonisan mantan presiden pertama ini kepada pasangannya perlu kita contoh. Meskipun kita tahu bahwa mantan presiden pertama ini mempunyai isteri lebih dari satu, namun kenyataannya beliau dapat berlaku adil kepada isterinya. Dari beberapa versi cerita, berikut salah satu cerita cinta bung karno yang saya jadikan new posting pada blog saya. Silahkan, membacanya :D
Ada beberapa kalimat yang pernah terucap dari bibir Bung Karno sebagai ungkapan cinta yang puitis terhadap Hartini dan Ratna Sari Dewi.
“Tiada pernah aku melihat pengabdian seorang istri yang lebih besar dari apa yang telah Hartini berikan kepadaku. Karenanya bila aku mati, aku ingin di makamkan berdampingan dengan Hartini.”
“Tiada pernah aku merasakan cinta yang begitu besar kecuali terhadap Dewi, karenanya bila aku mati maka kuburlah kami dalam satu lubang yang sama”.

Awal cerita :
Dalam kasus Presiden Soekarno, yang diceritakan masa kecilnya sering sakit-sakitan, tidak terlalu akrab dengan ibunya yang berasal dari Bali Ida Ayu Laksmi. Justru ia mendapat kasih sayang pengganti dari  pengasuhnya yang bernama Sarinah seperti yang diyakini Soekarno,  yang mengajarinya budi pekerti dan cinta rakyat kecil. Ada teori yang mengatakan karena ketidakdekatan dengan ibunya itulah, yang menyebabkan ia melarikan diri dalam kasih sayang pengasuhnya. Soekarno menulis buku tentang wanita Indonesia yang dipersembahkannya pada Sarinah, demikian pula pusat perbelanjaan besar pertama Indonesia diberi nama Sarinah, sebagai tanda sayang dan hormatnya pada pengasuhnya.
Saat bersekolah di Surabaya, ia dinikahkan HOS Tjokroaminoto dengan anak perempuannya Siti Oentari, saat itu Soekarno berumur 20 tahun sementara Siti Oentari 16 tahun. Namun perkawinan mereka tidak berlangsung lama, Soekarno tidak memiliki ketertarikan pada Oentari dan hanya menganggapnya sebagai seorang adik.
Perempuan kedua dalam hidupnya adalah Inggit Garnasih, yang berstatus sebagai istri Sanoesi, induk semangnya sekaligus teman HOS Tjikroaminoto saat Soekarno melanjutkan sekolahnya ke ITB Bandung. Karena sering ditinggal suaminya dan tidak memiliki anak, sementara Soekarno juga kesepian karena baru berpisah dari istrinya maka terjadilah hubungan batin di antara keduanya. Soekarno menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Inggit seperti melihat cahaya dari pintu yang terkuak. Akhirnya Sanoesi menceraikan Inggit, maka menikahlah keduanya. Inggitlah yang menjadi istri, kawan perjuangan dan ibu bagi Soekarno. Perbedan usia diantara mereka 13 tahun. Inggitlah yang setia mengunjungi dan menyemangati Soekarno selama dibui di penjara Sukamiskin. Penjara sempit dan lembab namun menjadi sejarah ditulisnya pleidoi terkenal Soekarno yang berjudul “Indonesia Menggugat”. Mereka saling berkirim surat cinta mengungkap kerinduan melalui kertas yang digulung menyerupai rokok, karena saat itu untuk menyambung hidup, Inggit berjualan rokok. Ia juga menjadi perantara dan informan antara Soekarno dan para tokoh pergerakan lainnya. Inggit juga yang dengan setia menemani Soekarno selama diasingkan ke Ende dan Bengkulu, tempat ia bertemu Fatmawati.
Isteri selanjutnya, Fatmawati adalah putri seorang tokoh pergerakan di Bengkulu yang dititipkan pada Soekarno dan menjadi teman Ratna Djuami, putri angkat Inggit. Soekarno menggambarkan Fatmawaty seorang remaja dengan rambut hitam panjang seperti sutra, yang membawa keceriaan di rumah mereka. Soekarno mengajak Fatmawaty jalan-jalan ke tepi pantai, menikmati debur pantai dan matahari terbenam. Inggit mulai mencium hubungan mereka bukan lagi seperti ayah dan anak namun sebagai sepasang kekasih. Ketika Soekarno yang saat itu berusia 41 tahun meminta ijin menikahi Fatmawaty yang baru berusia 19 tahun, Inggit memilih berpisah dan kembali ke Bandung bersama Ratna Djuami.
Tak lama setelah menikah, Fatmawaty melahirkan putera pertama mereka, Guntur Soekarnoputera yang disambut dengan amat gembira oleh Soekarno, setelah penantian panjangnya untuk memiliki keturunan. Akhirnya mereka tinggal di Jakarta. Fatmawati menemani Soekarno saat diculik para pemuda pada tanggal 15 Agustus 1945 yang diprakarsai Sukarni ke Rengasdengklok agar terhindar dari pengaruh golongan tua yang pro Jepang dan mencoba menahan untuk tak segera memerdekakan Indonesia, padahal tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat pada sekutu karena banyaknya korban akibat pengeboman Hiroshima (6 Agustus 1945) dengan bom bernama little boy dan Nagasaki (9 Agustus 1945) memakai bom atom bernama fat man. Hal ini menyebabkan Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan ( atau disebut vacuum power bukan vacuum cleaner yaa…^_^) Mereka memiliki lima anak yaitu Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarnoputera.
Berita menyerahnya Jepang didengar Sutan Sjahrir melalui radio BBC walau selalu ditutupi oleh pemerintah Jepang. Terjadi perdebatan panjang antara para pemuda dengan Soekarno dan Hatta hingga akhirnya tercapai kata sepakat untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia. Ahmad Soebardjo mengantarkan kembali Soekarno dan Hatta ke Jakarta menuju rumah Laksmana Maeda seorang Marsekal Angkatan laut Jepang yang bersimpati pada Indonesia. Soekarno Hatta mengundang para tokoh pergerakan terpercaya untuk bersama-sama membuat konsep proklamasi yang diketik oleh Sajuti Melik dan ditandatangani oleh Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia yang diprakarsai lagi-lagi oleh Sukarni
Fatmawati bertugas menjahit bendera merah putih. Diputuskan proklamasi kemerdekaan dilaksanakan tanggal 17 Agustus 1945 hari Jumat jam 10 pagi bertepatan dengan bulan Ramadhan di depan kediaman Soekarno di Jl. Pegangsaan Timoer no 56 Jakarta. WR Soepratman mengiringi pengibaran bendera dengan gesekan biola memainkan lagu Indonesia Raya yang syahdu. Wanita selanjutnya adalah Hartini, seorang janda dokter beranak lima. Ketika tahu anaknya sudah lima, komentar Soekarno “Wah, sudah punya anak lima saja masih cantik banget ..!” (he..he..pinter merayu memang) Mereka bertemu saat Soekarno berkunjung ke Salatiga. Pulang ke Jakarta, Soekarno tak bisa melupakan senyum Hartini. Maka Soekarno mengirimkan surat cinta secara rahasia melalui kurir pribadi terpercaya dengan nama samaran Srihana dan memanggil Hartini dengan nama Srihani. Ketika menikahi Fatmawati, orang masih maklum karena Ibu Inggit sudah tua dan tidak mampu memberikan keturunan. Namun ketika menikahi Hartini, menjadi tamparan keras bagi berbagai organisasi kewanitaan di Indonesia yang sedang menggelindingkan wacana anti poligami. Perkawinan Soekarno dan Hartini menimbulkan polemik di masyarakat. Bu Fatmawati memilih keluar dari istana sebagai bentuk protes dan tinggal di sebuah rumah di Jalan Sriwijaya serta bersumpah tak akan menginjakkan kaki ke Istana Negara lagi. Dan beliau konsisten dengan sumpahnya, ketika Presiden Soekarno wafat, Bu Fat tidak terlihat di Istana untuk memberikan penghormatan terakhir pada suaminya, hanya mengirimkan karangan bunga. Keinginannya agar jenazah Soekarno dikirim ke Jl. Sriwijaya kediamannya, ditolak oleh Presiden Soeharto.
Hartini adalah tipikal wanita Jawa yang lemah lembut, pinter masak (sayur lodeh dan sambelnya yahud, kata Soekarno), penyabar, hebat di ranjang (menurut Soekarno yang diceritakan pada beberapa orang kepercayaannya. Buat yang belum 17 tahun, lewatkan kalimat ini ya. Awas kalo ngintip! ) Hartini juga wanita yang nerimo (karena selama jadi isteri presiden, hanya sekali ke Istana Negara ketika mendengar Soekarno menikah lagi dengan Haryati, yang disebut pers sebagai ” Versi Hartini dengan cetakan yang lebih muda“ dan pengertian, karena ketika menerima lamaran Soekarno ia mensyaratkan Soekarno harus tetap menjadikan Fatmawati sebagai isteri pertama dan merelakan dirinya menjadi isteri kedua. Bandingkan, dengan perempuan jaman sekarang, sudah menggoda suami orang, matre, masih juga menyuruh menceraikan isteri pertama yang sudah berbuntut. Dari Hartini, Soekarno memiliki dua putera, yaitu Taufan dan Bayu, namun salah satunya sekarang sudah meninggal dunia)
Soekarno mengakui kehebatan Hartini sebagai isteri yang ideal dan mampu diajak bertukar pikiran. Sebagai janda dokter, Hartini memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Berbakti pada suami, yang dibuktikannya saat Pak Karno sakit keras, Hartinilah yang setia mendampingi hingga Rahmawati yang semula benci, mengakui kelebihan ibu tirinya ini dan menjadi sayang. Soekarno berpesan, agar saat meninggal Hartini dimakamkan di samping makamnya di Blitar.
Istri ke empat adalah si jelita Madame de Syuga alias Naoko Nemoto. Si cantik berkelas ini sebelumnya seorang agen asuransi dan berasal dari kalangan bawah sebelum akhirnya menjadi seorang geisha yang biasa menemani para pejabat tinggi dan kalangan jet set di sebuah kelab bergengsi di Tokyo. Seorang pengusaha Jepang memperkenalkan mereka berdua. Soekarno langsung tertarik pada kecantikannya dan mengundang Naoko berlibur ke Bali yang ditemani secara pribadi oleh Presiden. Ketika mereka menikah, orang tua Naoko terkejut lalu memutuskan untuk bunuh diri demikian juga dengan abangnya memilih ber-harakiri dengan samurai karena tak terima adiknya dinikahi seorang presiden negara miskin dan hanya sebagai istri muda, itu dianggapnya sebagai penghinaan nama keluarga. Sungguh pengorbanan yang besar bagi Ratnasari Dewi, nama yang dipilihkan Soekarno untuk istri made in Japan ini. Mereka dikarunia seorang puteri cantik bernama Kartika Sokarnoputeri, yang terakhir kabarnya menikah dengan seorang bankir sukses dari Belanda. Sekarang, Dewi Soekarno tinggal di Paris, sebagai bagian dari kalangan jet set di negeri romantis itu.
Wanita ke lima yang mencuri hati Soekarno adalah Haryati. Namun tidak banyak informasi tentang beliau, selain sempat disinggung Cindy Adams, penulis buku ” Soekarno Penyambung Lidah Rakyat” saat menemani Soekarno ke Bali untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi, ternyata Haryati sudah diterbangkan terlebih dulu dan menunggu di Bali. Selain itu, Haryati juga pernah di damprat Ratnasari Dewi karena dianggap tidak mau merawat Soekarno yang sedang sakit keras.
Dewi adalah isteri kesayangan Bung Karno.  Sebuah issue berhembus dari orang yang ditugaskan untuk membunuh Soekarno saat malam G 30 S/PKI, bahwa sebenarnya Soekarno juga menjadi target pembunuhan PKI selain para jenderal. Telah disusun skenario rapi, bahwa malam berdarah 30 September 1965 itu, semua pejabat yang menjadi sasaran pembunuhan dipastikan berada di rumah masing-masing karena mereka diundang menghadiri sebuah acara penting pada keesokan harinya. Karena itu hampir semua jenderal terbunuh kecuali Pak Nasution yang berhasil melarikan diri walau harus kehilangan puteri bungsunya yang berusia 5 tahun, Ade Irma Suryani yang tewas tertembak sebagai martir.  Presiden Soekarno malam itu juga dipastikan tidur di Istana Negara, namun ajudan kepercayaannya mengabarkan kalau Bu Dewi ngambek karena malam sebelumnya merupakan gilirannya untuk ditengok di Wisma Yaso namun karena kesibukan, Pak Karno lupa.
Maka, wanita cantik ini mengajak isteri seorang pejabat “dugem” di kelab malam Hotel Indonesia. Mendengar laporan sang ajudan, berangkatlah malam itu Pak Karno ditemani Sang Ajudan secara sembunyi-sembunyi, menyusul ke Hotel Indonesia menjemput Bu Dewi dan membawanya pulang ke Wisma Yaso. Maka, secara tidak langsung, Bu Dewi menyelamatkan Pak Karno dari rencana pembunuhan karena malam itu, Pasukan Cakrabirawa yang telah terkontaminasi PKI mencari Pak Karno dan beliau tidak ditemukan di bagian manapun di Istana Negara. Karenanya, Pak karno pernah berpesan untuk menguburkan Dewi seliang kubur dengannya jika telah meninggal. Tapi sepertinya ini tak akan terwujud, karena Blitar dan Paris terpisah jarak yang sangat jauh, ya kan?
Isteri selanjutnya bernama Yurike Sanger, seorang ABG kelas dua SMA berusia 16 tahun yang menjadi bagian dari Barisan Bhineka Tunggal Ika. Yurike seorang gadis pemalu keturunan Indonesia Timur. Ketika ditanya namanya, dan menjawab Yurike, Pak Karno berkata ” Namamu Yuri saja ya, lebih Indonesia! Tidah usah pakai Ke, jadi kebarat-baratan.”  Yurike tak pernah menyangka kalau Presiden Soekarno apel ke rumahnya. Ayah Yurike juga mengira yang dia hadapi adalah ajudan presiden.  Pada Yurike, Presiden Indonesia yang flamboyan ini berjanji menjadikannya isteri terakhir.
Soekarno adalah seorang pengagum keindahan, khususnya wanita-wanita cantik. Ini diakuinya pada Cindy Adams. Selain itu, beliau penuh perhatian, romantis dan jago menulis puisi cinta, yang bisa membuat hati wanita berbunga-bunga. Namun, mungkin karena terlalu banyak istri yang menyita pikiran, tenaga dan perasaan membuat beliau kurang fokus mengurus rakyat dan negara seperti cita-citanya di masa muda. Satu hal lagi, semakin berumur Pak Karno semakin muda usia wanita yang dinikahinya. Apakah ini bentuk dari rasa kurang percaya diri atau terkena sindrom takut tua? Hanya beliau yang bisa menjawabnya.
Kesimpulannya saudara-saudara! Sesempurna apapun seorang wanita tak akan pernah cukup bagi seorang pria yang terlalu menurutkan kehendaknya. Karena itu, diperlukan rem untuk menahan diri, yang membuat seseorang bersyukur pada pasangan yang dimilikinya, walaupun memiliki kekurangan. Dan selama kekurangannya masih dalam tahap bisa diterima dan ditoleransi, kenapa tidak?
Semoga kisah ini bisa menjadi cermin bagi para pembaca. Amiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar